Review
Jurnal
ALAT
PENCEGAH KEBAKARAN BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 PADA BOX PANEL KONTROL
LISTRIK
Claudia
Devi Safitri
Abstrak : Jurnal yang berjudul ‘Alat Pencegah
Kebakaran Berbasis Mikrokontroler AT89S51 Pada Box Panel Kontrol Listrik’ ini
berisi tentang bagaimana cara mengatasi kebakaran yang banyak disebabkan oleh
listrik karena hubung singkat, kabel – kabel yang terbakar karena isolator
kurang bagus dan mcb yang terbakar karena kelebihan beban yang terdapat pada
box panel listrik dengan membuat alat menggunakan mikrokontroler AT89S51. Alat
ini menggunakan sensor suhu, sensor cahaya dan ADC sebagai inputan system
pengamannya. Dengan ada nya alat ini diharapkan dapat menghindari terjadinya
kebakaran yang disebabkan oleh listrik pada box panel dan diharapkan tingkat
kebakaran dapat dikurangi.
1. Pendahuluan
Akan terjadi percikan api bahkan kebakaran jika
box panel listrik yang memiliki peranan cukup penting dalam
instalasi listrik tidak di jaga keamanannya. Sehingga
diperlukan alat otomatis yang dapat bekerja secara otomatis jika mendeteksi
kebakaran pada box panel kontrol listrik. Dalam pembuatan alat ini kita dapat
belajar merancang plant system alat ini, lalu belajar bagaimana merancang
bahasa program nya serta belajar
mengendalikan cara kerja dari alat yang menggunakan Mikrokontroler AT89S51 ini.
Alat
yang akan dibuat pada penulisan ini bertujuan untuk membuat dan merealisasikan
suatu sistem pencegah kebakaran berbasis mikrokontroler yang di letakan pada
box panel kontrol listrik. Mikrokontroler pada alat ini berfungsi
sebagai pengendali yang mengendalikan aktuator berupa sirine,
kipas dan menghembuskan angin serta memutuskan jaringan
listrik 3 fasa.
Mikrokontroler
AT89S51 sebagai pengendali system dan suhu
yang dihasilkan dari daerah box kontrol
panel listrik pada batas setting tertentu menggunakan sensor LM35DZ sebagai
masukan, kemudian dikonversi menjadi besaran analog dan diinisialisasi melalui
ADC kemudian diproses, dan ditampilkan ke dalam tujuh segmen. Lalu
untuk sensor cahaya sebagai detektor api diproses dalam mikrokontroler AT89S51
sebagai pengendali sistem.
2. Landasan Teori
·
Mikrokontroler tipe AT89S51 merupakan
mikrokontroler keluarga MCS-51 dengan konfigurasi yang sama persis dengan
AT89C51 yang cukup terkenal, hanya saja AT89S51 mempunyai fitur ISP (In-System
Programmable Flash Memory). Fitur ini memungkinkan mikrokontroler dapat
diprogram langsung dalam suatu sistem elektronik tanpa melalui Programmer Board
atau Downloader Board. Mikrokontroler dapat diprogram langsung melalui kabel
ISP yang dihubungkan dengan paralel port pada suatu Personal Computer.
·
Pengubah
Analog Ke Digital (ADC) 0808
ADC
0808 adalah komponen CMOS monolitik penerima data dengan sebuah pengubah analog
ke digital 8 bit, pemilih data masukan 8 kanal dan cocok untuk logika
pengendali mikroprocesor. ADC menggunakan teknik konversi analog dari
pembanding ke keluaran 8 bit. Pemilih data 8 kanal dapat secara langsung
mengakses 8 sinyal analog masukan. Pengantarmukaan yang mudah ke mikroposesor
oleh penahan alamat masukan pemilih data yang dikodekan serta penahan keluaran
TTL tiga keadaan.
Perancangan
ADC 0808 telah dioptimalkan dengan menggabungkan kondisi paling diinginkan dari
beberapa teknik ADC. Disamping kecepatan tinggi, ketergantungan suhu minimal,
ketepatan dan kemampuan mengulang jangka panjang yang bagus, dan konsumsi daya
kecil.
·
Tujuh
Segmen
Seven
Segment adalah suatu segmen-segmen yang digunakan menampilkan angka. Seven
segment ini tersusun atas 7 batang led yang disusun membentuk angka 8 dengan
menggunakan huruf a s/d g yang disebut dot matrix. Setiap segmen ini terdiri
dari 1 atau 2 Light Emitting Diode ( LED ). Seven Segment merupakan gabungan
dari 7 buah LED (Light Emitting Diode) yang dirangkaikan membentuk suatu
tampilan angka.
·
Sensor
Suhu LM 35
Sensor suhu IC LM 35 merupkan
chip IC produksi Natioanal Semiconductor yang berfungsi
untuk mengetahui temperature suatu objek atau ruangan dalam bentuk besaran
elektrik, atau dapat
juga di definisikan sebagai komponen elektronika yang
berfungsi untuk mengubah perubahan temperature yang diterima dalam perubahan
besaran elektrik. Sensor
suhu IC LM35 dapat mengubah perubahan temperature menjadi perubahan tegangan
pada bagian outputnya. Sensor suhu IC LM35 membutuhkan sumber tegangan DC +5
volt dan konsumsi arus DC sebesar 60 µA dalam beroperasi. Bentuk fisik sensor
suhu LM 35 merupakan chip IC dengan kemasan yang berfariasi, pada umumnya
kemasan sensor suhu LM35 adalah kemasan TO-92.
·
LDR
(Light Dependent Resistant)
Light
Dependent Resistor atau disingkat dengan LDR adalah jenis Resistor yang nilai
hambatan atau nilai resistansinya tergantung pada intensitas cahaya yang
diterimanya. Nilai Hambatan LDR akan menurun pada saat cahaya terang dan nilai
Hambatannya akan menjadi tinggi jika dalam kondisi gelap.
·
Penguat
Non Inverting
Penguat Tak-Membalik (Non-Inverting Amplifier) merupakan penguat sinyal dengan karakteristik dasat
sinyal output yang dikuatkan memiliki fasa yang sama dengan sinyal input.
Penguat tak-membalik (non-inverting amplifier) dapat dibangun
menggunakan penguat operasional, karena penguat operasional memang didesain
untuk penguat sinyal baik membalik ataupun tak membalik.
·
Relay
Magnetik
Relay
magnetik adalah sebuah sakelar
elektromagnetik yang dapat mengubah kontak-kontak sakelar sewaktu kumparan
mendapatkan arus listrik. Relay yang merupakan aplikasi elektromagnetik ini
tersusun atas sebuah kumparan kawat beserta sebuah inti besi lunak. Dua
komponen utama relay ini dilengkapi dengan armatur (koil) dan kontak-kontak.
3. Perancangan Alat
3.1
Perancangan Perangkat Keras
Dalam diagram blok dari perancangan perangkat
keras keseluruhan dari alat ini adalah sebagai berikut :
Gambar
1 Diagram blok perancangan perangkat keras
Alat ini memiliki
prinsip kerja
yang ketika
suhu panas terdeteksi oleh sensor suhu atau percikan api di deteksi oleh
sensor cahaya maka secara otomatis actuator akan bergerak yang
merupakan alarm
ketika tanda adanya bahaya, kipas untuk mencegah
perluasan api dan jaringan listrik tiga
fase (R, S, T) akan terputus secara otomatis dan terdapat tombol manual pemutus
jaringan listrik tiga fasa. Pengendalian seperti cara
tersebut
merupakan pengendalikan besarnya panas dan cahaya
yang dihasilkan di daerah sekitar kontrol panel, dan untuk pengendalian
aktuator berupa kipas, sirine, dan relai pemutus jaringan tiga fase dilakukan
secara otomatis serta penggunaan pengendalian tombol manual untuk
memutuskan jaringan listrik tiga fasa yang terdapat control panel.
3.1.1 Sistem Minimum AT89S51
Berikut
adalah gambar adari rancangan system minimum mikrokontroler AT89S51 yang difungsikan untuk memproses data
masukan, melakukan fungsi kendali on-off dan menghasilkan keluaran.
Gambar
2 Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51
3.1.2. Sensor Suhu dan Penguat Tak
Membalik
Sebagai
sensor suhu digunakan IC LM35DZ, yang telah dikalibrasi langsung dalam 0 C.
Tegangan catunya dapat berada dalam rentang 4 volt hingga 30 volt. Sedangkan
rentang pengukurannya adalah dari 0°C sampai 100oC. Sesuai datasheet tegangan
keluarannya (VOUT) akan mengalami perubahan 10 mV untuk setiap perubahan suhu
1oC atau memenuhi persamaan nya.
Gambar
3. Rangkaian penguat sensor suhu
3.1.3.
Rangkaian ADC
Rangkaian
ADC yang digunakan menggunakan IC ADC 0808, dengan pin-pin data keluaran
digital dihubugkan ke Port 1 mikrokontroler AT89S51 yang difungsikan sebagai
input data.
Gambar
4. Rangkaian ADC 0808
3.1.4. Unit tampilan
Untuk
menampilkan besarnya suhu hasil pengendalian dan seting suhu digunakan 7
buah tujuh segmen. Untuk mengendalikan
tujuh segmen digunakan IC 74LS48 (BCD to 7-Segmen Decoder). Konfigurasi pin IC
74LS48 ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar
5. Konfigurasi pin 74LS48
3.1.5. Rangkaian Sensor Cahaya
Rangkaian
sensor cahaya yang digunakan pada pengendali pencegah kebakaran pada box
kontrol panel ditunjukkan pada Gambar 6. Sebagai sensor cahaya adalah LDR
(Light Dependent Resistor) yang berfungsi untuk mendeteksi adanya cahaya yang
berasal dari api. Sifat dari tahanan LDR ini adalah nilai tahanannya akan
berubah apabila terkena sinar atau cahaya. Api pada saat menyala maka akan
mengeluarkan cahaya. Cahaya inilah yang digunakan LDR untuk mendeteksi adanya
api. Pada rangkaian tersebut terdapat penguatan dari transistor, karena
tegangan output dari sensor kecil sehingga perlu dikuatkan agar mikrokontroler
dapat membedakan logika 1 atau 0.
Gambar
6. Rangkaian Sensor cahaya
3.1.6. Rangkaian Relay
Rangkaian
dari minimum sistem adalah rangkaian yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan
menambah relay guna pengendalian panas dan asap dimana relay tersebut dapat
dialiri catu daya sebesar 12 volt untuk realisasi dari pengendalian panas dan
cahaya. dimana relay tersebut dapat
dialiri catu daya sebesar 12 volt untuk realisasi dari pengendalian panas dan
cahaya.
Gambar
7. Driver Relay
Pada
saat transistor mendapat bias maju, maka transistor akan ON dan relay juga akan
ON sehingga aktuator akan bekerja. Pada saat transistor mendapat bias mundur
maka transistor akan OFF sehingga relay akan mati dan aktuator tidak akan bekerja, transistor ini
berfungsi sebagai saklar.
3.1.7. Catu Daya DC
Catu
daya yang digunakan adalah daya dc 5 volt, yaitu untuk semua blok rangkaian
perangkat keras, untuk rangkaian sensor suhu digunakan catu daya dc 9 volt, dan
untuk relay digunakan catu daya 12 volt. Untuk menghasilkan tegangan konstan 5
volt digunakan IC regulator 7805. Sedangkan untuk menghasilkan tegangan 9 volt
digunakan IC 7809 dan untuk tegangan konstan 12 volt digunakan IC 7812.
Gambar 8. Rangkaian Power Supply
4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
4.1
Hasil Pengujian Rangkaian Catu Daya
Pengujian
rangkaian catu daya dengan cara mengukur
Vout dari masing - masing IC regulator LM7812, dan LM7805 menggunakan
multimeter digital. Pengujian rangkaian catu daya ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengujian rangkaian catu daya
4.2
Pengujian Sensor Suhu(LM35DZ)
Pengujian
ini bertujuan untuk mengetahui besarnya perubahan kenaikkan suhu setiap 1 OC
maka tegangan ouput pada sensor LM 35DZ akan naik 10mV.
Tabel 2. Pengujian sensor suhu (LM35DZ)
4.3 Pengujian Sensor Cahaya (LDR)
Pengujian
ini bertujuan untuk mengetahui besarnya perubahan tegangan ketika LDR terkena
cahaya api (tidak terhalang) dan ketika
LDR tidak terkena cahaya (gelap gulita) (terhalang).ditunjukkan table dibawah
ini :
Tabel 3.
Pengujian Sensor Cahaya (LDR)
4.4 Pengujian Rangkaian ADC
Untuk
mengamati hasil konversi ke nilai digital dari setiap tegangan analog pada
masukan IN 0, maka hasil konversi ADC yang diterima oleh mikrokontroler
digunakan untuk menyalakan 8 buah led indikator untuk setiap bit (dihubungkan
ke port 0).
Tabel
4. Pengujian rangkaian ADC
4.5 Pembahasan
4.5.1 Pembahasan Pengujian Sensor
Suhu(LM35DZ)
Hubungan
antara suhu pada termometer dengan tegangan keluaran sensor suhu hasil
pengukuran adalah linier, dengan penyimpangan tegangan keluaran rata-rata
sebesar 0,89 mV dari hasil perhitungan.
4.5.2 Pembahasan Pengujian Sensor Cahaya
(LDR)
Sensor
cahaya (LDR) merupakan fungsi resistor sebagai pembagi tegangan dimana tegangan
keluaran VR1 nanti akan mempengaruhi kerja transistor. Pada saat LDR tidak
mendeteksi api/cahaya maka nilai hambatan LDR = 198,6MΩ.
Berdasarkan
data yang di dapat diketahui adanya selisih antara perhitungan dan pengukuran,
perbedaan ini disebabkan tegangan sumber yang pada perhitungan ditetapkan ± 5
volt namun pada kenyataannya tegangan sumber pada rangkaian adalah ± 5,09 volt.
4.5.3
Pembahasan Pengujian Rangkaian ADC
Hasil
pengujian rangkaian ADC dapat dilihat pada tabel 4. Oleh karena masukan VREF(+)
adalah 5 volt, maka nilai digital (biner) hasil konversi akan berubah satu bit
setiap terjadi perubahan masukan analog IN 0 sebesar 5V/28 = 19,5 mV. Dalam penerapannya,
masukan analog untuk ADC adalah berasal dari keluaran sensor suhu yang telah
dikuatkan. Tegangan keluaran sensor suhu memenuhi persamaan (3.1), sehingga
dengan mengatur penguatan operasional pada rangkaian sensor suhu sebesar 5
kali.
5. Penutup
5.1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil setelak dilakukannya
perancangan, pengujian dan analisa pada alat ini, adalah:
1. Berdasarkan
hasil pengujian rangkaian sensor cahaya(LDR), Tegangan VR1 saat LDR mendapat
cahaya (nyala api pada lilin) nilai tegangan lebih besar dibandingkan
tegangan VLDR dan nilai resistansi LDR 1,4 K Ω , saat LDR tidak mendapat cahaya (ruang gelap gulita)
tegangan VR1 lebih kecil dibandingkan
dengan tegangan VLDR dan nilai
resistansi LDR 1986 KΩ .
2. Pengujian rangkaian sensor suhu (LM35DZ)
untuk kenaikkan suhu setiap C °1 maka akan menaikkan tegangan keluaran sensor
suhu 10 mV, untuk penurunan suhu setiap C°1 maka akan menurunkan tegangan
keluaran sensor suhu 10 mV.
3. Sistem
AT89S51 berfungsi sebagai central processing unit yang mengolah sinyal analog
dari LDR dan sensor suhu LM35DZ yang diolah lagi di ADC sebagai suatu nilai
inputan untuk tampilan tujuh segmen dan pemicuan aktuator pada rangkaian solid
state relay.
5.2.
Saran
Untuk
mendapatkan kinerja yang lebih baik pada alat ini, maka diperlukan beberapa
alat dan komponen yang lebih baik dan canggih tentunya. Seperti alat pencegah
kebakaran dengan menggunakan sensor yang lebih sensitif dan menggunakan pemadam
kebakaran untuk memadamkan api nya. Selain itu, sensor lain seperti sensor LDR
dapat diperbanyak untuk mendeteksi percikan api yang lebih sensitif. Serta
mennggunakan sirine sebagai pengasil suara
yang lebih besar dan keras.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiharto,
Widodo. 2004. Interfacing Komputer dan Mikrokontroler. Jakarta : Elex Media
Komputindo Gramedia.
Christanto,
Danny; Pusporini, Kris. 2004. Panduan Praktikum Dasar Mikrokontroler Keluarga
MCS-51 Menggunakan DT-51 Minimum System Ver 3.0 Dan DT-51 Trainer Board. Surabaya : Inovative
Electronic.
Christanto, Danny; Pusporini, Kris. 2004.
Panduan Dasar Mikrokontroler Keluarga MCS-51. Surabaya : Innovative Electronic.
Ibrahim,
KF.1991. Teknik Digital. Yogyakarta : Andi Yogyakarta Malvino, Albert Paul.
2003. Buku Satu Prinsip-Prinsip Elektronika. Jakarta : Salemba Teknika.
Nalwan, Paulus
Andi. 2003. Panduan Praktis Teknik Antar Muka dan Pemrograman Mikrokontroler
AT89C51. Jakarta : Elex Media Komputindo Gramedia.
Nalwan, Paulus
Andi. 2004. Panduan Praktis Penggunaan dan Antarmuka Modul LCD M1632. Jakarta :
Elex Media Komputindo Gramedia. Putra, Agfianto Eko. 2002. Belajar
mikrokontroler AT89C51/52/55 (Teori dan Aplikasi). Yogyakarta : Gava
Media.
Setiawan,
Sulhan. 2006. Mudah dan Menyenangkan Belajar Mikrokontroler. Yogyakarta : Andi
Offset. Wasito, S. 2001. Vademikum Elektronika Edisi Kedua. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Biografi
Alfalah, Instrumentasi dan Kendali, pada tahun 2008. Thomas Sri Widodo, dosen
Teknik Elektro UGM












Tidak ada komentar:
Posting Komentar