Bangun 34 Terminal LNG, Kadin Butuh Rp 125 Triliun
TEMPO.CO, Jakarta -
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia akan membangun 34 liquefied natural gas (LNG) receiving terminaldi tiap provinsi. Namun, sebelumnya, mereka
meminta pemerintah menjamin pasokan gas yang dibutuhkan. "Terminal ini
sangat penting karena berdampak pada ekonomi, pertumbuhan ekonomi daerah. Multiplier effect-nya besar," Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang
Pemberdayaan Daerah Natsir Mansyur, Selasa, 13 Januari 2015, dalam diskusi di
kantor Kadin Indonesia, Jakarta.
Menurut Natsir, pembangunan terminal untuk menampung gas alam cair itu akan dilakukan selama lima tahun di setiap provinsi di Tanah Air. Adapun nilai investasi 34 terminal itu diperkirakan sekitar US$ 10 miliar atau sekitar Rp 125 triliun. "Sumber pendanaan kami cari sendiri. Sebagai swastam berbagai cara kami cari," katanya. (Baca:Dewan Energi Sepakat Atasi Krisis Listrik )
Pembangunan LNG receiving terminal dinilai penting untuk mendukung kebutuhan energi sektor industri. Kebutuhan LNG dalam negeri semakin meningkat. Pada 2014 diperkirakan kebutuhan LNG dalam negeri 10 juta metrik ton atau separuh dari LNG yang diekspor. Ekspor dilakukan karena tempat penyimpanan gas dalam negeri tak mencukupi. Karena itu, Kadin menilai pembangunan infrastruktur gas bumi perlu dilakukan, di antaranya pembangunan LNG receiving terminal.
Direktur Program Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Agus Cahyono mengatakan pihaknya mendukung keinginan Kadin "meng-gas-kan" semua daerah. Namun pihaknya meminta Kadin menggunakan sumber energi yang ada di daerah lebih dulu. "Penyaluran gas dilakukan pada daerah yang sumber daya alamnya rendah," kata Agus. Tujuannya adalah agar ada pengalokasian sumber energi. (Baca:Pulau Terluar Diusulkan Jadi Terminal Gas )
Natsir menyatakan senang atas dukungan pemerintah soal pasokan gas. Dalam satu-dua bulan ke depan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelaraskan rencana pembangunan terminal ini dengan program pemerintah. "Dalam satu-dua bulan akan kami sinkronkan," kata Natsir.
Menurut Natsir, pembangunan terminal untuk menampung gas alam cair itu akan dilakukan selama lima tahun di setiap provinsi di Tanah Air. Adapun nilai investasi 34 terminal itu diperkirakan sekitar US$ 10 miliar atau sekitar Rp 125 triliun. "Sumber pendanaan kami cari sendiri. Sebagai swastam berbagai cara kami cari," katanya. (Baca:Dewan Energi Sepakat Atasi Krisis Listrik )
Pembangunan LNG receiving terminal dinilai penting untuk mendukung kebutuhan energi sektor industri. Kebutuhan LNG dalam negeri semakin meningkat. Pada 2014 diperkirakan kebutuhan LNG dalam negeri 10 juta metrik ton atau separuh dari LNG yang diekspor. Ekspor dilakukan karena tempat penyimpanan gas dalam negeri tak mencukupi. Karena itu, Kadin menilai pembangunan infrastruktur gas bumi perlu dilakukan, di antaranya pembangunan LNG receiving terminal.
Direktur Program Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Agus Cahyono mengatakan pihaknya mendukung keinginan Kadin "meng-gas-kan" semua daerah. Namun pihaknya meminta Kadin menggunakan sumber energi yang ada di daerah lebih dulu. "Penyaluran gas dilakukan pada daerah yang sumber daya alamnya rendah," kata Agus. Tujuannya adalah agar ada pengalokasian sumber energi. (Baca:Pulau Terluar Diusulkan Jadi Terminal Gas )
Natsir menyatakan senang atas dukungan pemerintah soal pasokan gas. Dalam satu-dua bulan ke depan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelaraskan rencana pembangunan terminal ini dengan program pemerintah. "Dalam satu-dua bulan akan kami sinkronkan," kata Natsir.
Menurut pendapat saya masalah
pembangunan LNG(liquefied natural gas ) ini merupakan suatu hal yang penting untuk
negeri kita. LNG ini dibutuhkan karena tempat penyimpanan gas dalam negeri
kita tidak cukup maka dibutuhkan lah LNG ini dan kebutuhan LNG yang dibutuhkan
oleh negeri kita setiap tahunnya semakin meningkat, kita sebagai masyarakat
harus mendukung dalam pembuatan LNG ini, Namun alangkah baiknya jika pembuatan
LNG dilakukan dengan menggunakan sumber energi yang ada di daerah terlebih dahulu.
Agar sumber energi yang ada didaerah dapat di manfaatkan dengan baik.
Saya mengambil contoh kasus dari berita yg ada di link dibawah ini :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar